by

Miris! Lansia Buntung Tinggal di Kandang Ayam

BENGKULU SELATAN | RONIN98.COM Nusan (63) tinggal berdua dengan ayah kandungnya, Sapri (85) di sebuah pondok panggung berukuran 4×6 meter di Desa Babatan Ilir (BBI), Kecamatan Seginim, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu.

Mengetahui kedatangan Ronin98.com di kediamannya, Senin (9/9/2019) kemarin siang, pria lumpuh yang telah kehilangan sebagian kaki kanannya —karena penyakit diabetes— ini ngesot keluar rumah. Sembari bercerita seputar perjalanan hidupnya sehar-hari, sesekali Nusan beranjak dari kursinya menuju tungku di samping rumah guna menata nyala api.

Pria tidak beristri ini mengaku, beberapa tahun silam masih mampu naik-turun tangga rumah panggung berdinding papan ini, sehingga kolong rumah hanya digunakan sebagai tempat menyimpan kayu bakar dan ‘hotel prodeo’ beberapa ekor ayam.

Namun setelah terjatuh dari tangga, Nusan memutuskan menjadikan kolong rumah sebagai hunian tetap. Guna mencegah masuknya binatang melata ke dalam kolong, Nusan membuat kolam kecil mengelilingi ‘istananya’ ini. “Bapak tetap di atas, aku di bawah. Karena kaki inilah, sudah tidak kuat naik tangga,” bebernya.

Menurut Nusan, dirinya sudah pernah menyampaikan permohonan bantuan bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), namun belum ada kejelasan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Nusan tidak menampik telah memperoleh bantuan uang tunai per tiga bulan dari Program Keluarga Harapan (PKH), meski belum mencukupi seluruh kebutuhan dia dan ayahnya.

Terpisah, Kepala Desa BBI Yohanistero melalui Sekdes Hariyanto menjelaskan, kisah Nusan hanya contoh kecil potret kemiskinan di desa itu. Di sekitar rumah Nusan, masih ada 10 Rumah Tangga Miskin (RTM) lainnya yang hingga kini butuh uluran agar bisa segera bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Sejauh ini, kata Yanto, andil pemerintah desa sudah rutin dilakukan adalah pemberian ransum tambahan melalui kegiatan Posbindu setiap bulan.

Baca Juga: Lansia KDI Dapat Bantuan Perlengkapan Tidur

“Khusus bedah rumah, sebenarnya bisa ditangani bergulir dari dana desa (pernah coba diusulkan saat pramusyawarah desa-red), bertahap 1-2 rumah per tahun. Tapi malah rawan kecemburuan sosial,” pungkasnya.

Hingga berita ini dipublish, pihak-pihak berkompeten seputar bantuan bedah RTLH yang tak kunjung terealisasi, dalam upaya dikonfirmasi.[ron4]

top

Berita Lainnya