by

Ekspor Bodong, Sembilan Eksportir Lada Diperiksa

PANGKALPINANG | RONIN98.COM Hampir semua lada/sahang asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dicurigai dibawa keluar daerah —untuk perdagangan antarpulau atau antarnegara— secara ilegal.

Akibatnya, harga komoditi andalan daerah ini anjlok hingga lebih satu dekade terakhir. Petani frustasi, pemerintah daerah dituding tidak becus mengurus tataniaga komoditi primadona tersebut. Bersama warga kampus, mereka menggelar demonstrasi, memaksa pemerintah daerah bangun dari tidur panjangnya.

Sebagai jawaban, Gubernur Babel Erzaldi Rosman Djohan membentuk Tim Pembinaan, Penagawasan dan Pengendalian Perdagangan Lada (TP4L), ditugaskan menginvestigasi lapangan guna mengungkap penyebab harga lada putih (Muntok White Paper) rontok.

Tim yang dikoordinir Staf Khusus Gubernur Bidang Hukum, Kombes Pol (Purn) Zaidan SH SAg MHum ini menemukan sejumlah indikasi penyimpangan regulasi tataniaga lada di lapangan, sehingga perlu didalami seksama.

TP4L kemudian memanggil dan memeriksa legalitas sembilan perusahaan eksportir lada Babel, di Sekretariat BUMD Babel, Kamis (24/10/2019) kemarin.

Sembilan perusahaan tersebut adalah PT Bangka Alam Sejahtera, PT Makro Jaya Lestari, PT Bangkabuana Internasional, CV Panen Baru, CV Laris Jaya, CV Indobhakti Makmur, CV Rahman Al Assad, PT Panen Bangka Internasional dan PT Lada Jaya Lestari.

Ketua TP4L Zaidan menjelaskan, pemanggilan sembilan perusahaan ekportir lada ini sebagai upaya mendapatkan keterangan terkait mekanisme pemasaran lada, baik ekspor maupun pengiriman antarpulau.

“Kita juga akan melihat kegiatan organisasi yang berkaitan langsung dengan lada itu, antara lain Badan Pengelola Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L), kita agendakan Senin depan untuk diminta keterangan. Agar ada kejelasan masalah legalitas, kemudian kegiatan organisasi itu,” paparnya, Kamis (24/10) siang.

Menurut Zaidan, hasil pemeriksaan perusahaan eksportir dan BP3L akan disampaikan kepada Gubernur Babel, sehingga dapat menentukan solusi memperbaiki harga lada.

“Dalam pemeriksaan tadi, kita mintai legalistas perusahaan masing-masing, sudah berapa lama mereka menggeluti usaha ekspor ini. Kemudian, kemana saja pengiriman, keluar negeri atau antarpulau, berapa banyak, dan dari mana saja mereka membeli,” bebernya.

Sembilan perusahaan itu, lanjut Zaidan, juga ditanyai keterkaitan mereka dengan asosiasi ekspor lada, menggunakan IG jenis apa, kontribusinya kepada siapa.

Baca Juga: Keranjingan Buka Badan Jalan, Indikasi Korupsi DD Paling Kentara

“Kini kita tinggal tanya lembaga-lembaga ini, sampai sejauh mana legalitasnya. Insya Allah, Senin pekan depan kita juga akan memeriksa AELI (Asosiasi Ekportir Lada Indonesia-red) terkait persoalan serupa,” pungkas purnariawan Polri dengan tiga melati di pundaknya ini.

Usai diperiksa TP4L, seorang pimpinan perusahan ekportir lada tidak menampik jika saat itu memang ada giat pemeriksaan. “Iya, pemeriksaan soal lada,” jawabnya singkat.

 

Band Digunakan Indofood dan Ladaku

Anggota TP4L dari unsur penyidik PPNS mengabarkan, ada perusahaan ekportir lada di Babel terindikasi bodong. Jika benar, maka perusahaan tersebut telah melanggar Undang Undang nomor 20 tahun 2016 tentang Brand/Merek dan Indikasi Geografis (IG), sehingga merugikan petani dan negara.

“Sahang keluar dari Babel terindikasi bodong semua. IG itu tidak bisa sembarangan bisa keluar. Dalam persoalan ini, BP3L (harus-red) lebih amanah mengeluarkan IG, itu yang kami beri dari Kemenkumham itu terindikasikan ilegal,” ujarnya, kemarin.

Baca Juga: Kuari Jago Bayo Ilegal, Aparat Tunggu Apalagi?

Dijelaskannya, lada Babel bisa keluar atas IG yang direkomendasikan BP3L. “Masuk uji lab baru diekspor (mestinyaa-red). Tapi mereka (eksportir-red) tetap dapat lisensi dari BP3L, meski tidak masuk lab, dan langsung di ekspor. Sesuai Undang Undang nomor 20/2016 Pasal 101, diancaman hukuman paling lama empat tahun penjara atau denda Rp2 miliar,” ungkapnya.

Pria yang enggan identitasnya ditulis ini menilai, kondisi ini memporakporandakan harga lada Babel. Bahkan, perusahaan besar di Jakarta seperti Indofood dan Ladaku mengunakan brand Muntok White Pepper yang merupakan brand Bangka Belitung.

Baca Juga: Hampir Sebulan Dipolisikan, Pencuri Kayu Belum Ditindak. Ada apa?

“Teman-temen bisa lihat Ladaku dan Indofood, brand yang dipakai adalah Muntok White Pepper. Ladaku juga mendapatkan lada dari sembilan perusahaan ini,” terangnya.

Lada Babel menjadi incaran pasar dalam dan luar negeri karena kadar minyak aslinya berkisar 5-6. Sementara Vietnam hanya 3. “Jadi tidak ada yang mampu menyamai lada kita, termasuk Kalimantan juga tidak mampu,” tutupnya.[rif]

top

Berita Lainnya