by

Ayo Kunjungi Lubuk Ipuh..!

Anda tentu belum benar-benar sampai di Bengkulu Selatan sebelum mengunjungi Lubuk Ipuh, sebuah situs peninggalan Abad XVIII yang dikenal sebagai salah satu cikal-bakal peradaban di Bumi Sekundang Setungguan tersebut

♦♦♦

Terletak persis di pinggir Sungai Bengkenang, Desa Lubuk Sirih Ulu, Kecamatan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, kawasan cagar budaya ini mulai ditata rapih pemerintah desa setempat.

Didedikasikan sebagai obyek wisata religi, melalui Program Inovasi Desa (PID) Pemerintah Desa Lubuk Sirih Ulu secara bertahap menyisihkan Dana Desa (DD) membiaya penataan situs ini sejak 2016 silam. Dimulai pembuatan pagar keliling kawasan, naungan tapak dan meriam (2017), serta payung/gazebo (2018).

Saat ini, menggunakan DD 2019, mereka tengah membangun pesanggrahan terbuka, toilet umum dan sumur. “Melalui musyawarah-musyawarah di desa, kami sepakat menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata religi yang bisa dikenal masyarakat luas, tanpa mengabaikan sisi konservasinya,” ungkap Kepala Desa Lubuk Sirih Ulu, Muhardin Effendi melalui Sekdes Dindi Mei Saputra, Selasa (1/10/2019) siang.

Menurut Dindi, sebelum penataannya dianggarkan dalam APBDes, tapak Syech Raja Mulia dan keluarganya ini dirawat swadaya seorang juru kunci dibantu masyarakat sekitar lokasi.

Pengunjung memang sudah sering datang sejak dulu. Sekarang intensitas kunjungan meningkat dan semakin ramai, sehingga memotivasi pemerintah desa membenahi penataan kawasan, dilengkapi beberapa fasilitas penunjang.

Berikutnya, terkait pengembangan PID, Dindi berharap gagasan Pemerintah Desa Lubuk Sirih Ulu bisa mendatangkan nilai tambah bagi masyarakat, khsusunya puluhan warga pemilik lahan sekitar lokasi cagar budaya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan melalui Camat Manna, Turman SE, mengapresiasi terobosan brilian Pemerintah Desa Lubuk Sirih Ulu mengelola dan memberdayakan potensi wilayahnya sehingga bisa menjadi mozaik tersendiri di dunia pariwisata.

Atas nama Bupati Gusnan Mulyadi, dia mendukung penuh upaya pelestarian, pengelolaan dan pemberdayaan Cagar Budaya Lubuk Ipuh sebagai obyek wisata religi produktif yang akan dikenal hingga ke segenap penjuru Tanah Air.

Turman berharap, penggunaan DD untuk pembiayaan inovasi desa ini benar-benar bisa bermanfaat besar, khusus dalam memperkokoh perekonomian masyarakat setempat dan peningkatan PAD. “Kami sangat mendukung program ini. Semoga dukungan konstruktif juga dapat diperoleh dari Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Pemerintah Pusat,” pungkasnya.

Ketua Tim PID Kecamatan Manna, Niko Apriansah menimpali, Lubuk Ipuh memiliki daya tarik tersendiri selain keasrian alamnya, di antaranya adalah tersematnya nama besar Syech Raja Mulia —bangsawan asal Banten— yang punya andil luar biasa dalam nukilan sejarah pada beberapa daerah di Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan.

“Menurut hikayat para tetua, di sini lah tapak perdana beliau, keluarga dan pengikutnya. Sampai kini, masyarakat asli di sini (Lubuk Sirih Ulu dan sekitarnya-red) adalah para keturunannya. Banyak misteri sejarah sejak era kolonial bisa digali di tempat ini,” imbuhnya didampingi Koordinator Pengelola PID, Ani Kurniati.

Niko menilai, perlahan namun pasti, Lubuk Ipuh akan makin dikenal dan diminati masyarakat luas, menyusul kian gencarnya realisasi PID di tempat itu.

Apalagi, tambah dia, kalau pemilik lahan sekitar lokasi tanggap, mengingat bentangan Sungai Bengkenang di bawahnya sudah sejak lama menawarkan dukungan eksotis yang siap membius perhatian para wisatawan.

Selain itu, di dalam kawasan cagar budaya juga terdapat meriam kuno sepanjang 1,2 meter yang menarik untuk dikaji asal-usul dan riwayat pemanfaatannya di masa lampau. Sehingga Lubuk Ipuh juga bisa dijadikan destinasi wisata edukasi.[ron4/bersambung]

top

Berita Lainnya